Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Saat seorang Ibu Buang Sampah Sembarangan di Depan Mata Anak Balitanya

Pernah kah anda melihat seorang ibu yang sedang menggendong anaknya, menyuapinya makan dengan jajanan yang diplastik? Makan cilok, atau cimol, atau cireng, atau pentol.

Mungkin itu adalah hal lumrah dan wajar yang terjadi di masyarakat. Namun akan tampak lucu jika si ibu-ibu tersebut tiba-tiba membuang kemasan plastik makan tersebut sembarangan. 

Lebih parahnya lagi sampah plastik tersebut dibuang di pinggir jalan, masuk ke dalam sawah. Hal ini saya lihat sendiri dan berkali-kali muncul di dalam pandangan saya ketika saya berada di pedesaan daerah bogor. 

Plastic trash photo created by wayhomestudio - www.freepik.com

Ironis dan miris sekali rasanya. Si anak yang masih sangat belia diberi pelajaran hidup langsung oleh ibunya, seorang manusia yang di bawah telapak kakinya terdapat surga si anak, untuk membuang sampah sembarangan dan mengotori lingkungan.

Saya tidak begitu heran jika melihat kawasan sungai di daerah itu penuh dengan sampah plastik, padahal airnya sangat jernih dan segar. Sebuah anugerah yang sangat besar sekali didapat secara gratis, hadiah dari yang Maha Kuasa, tetapi kita ludahi sendiri dengan mulut kotor kita. Padahal kita tak bisa hidup tanpanya.

Apa yang salah dengan generasi itu? Generasi Manusia Pencemar Lingkungan

Sepertinya generasi-generasi setengah tua yang jorok itu tidak cocok hidup di jaman modern seperti saat ini. Mereka cocoknya hidup di jaman kerajaan, yang rajanya adalah Ratu Shima. Sang Ratu Adil jaman dulu yang disegani dan dipatuhi seluruh rakyatnya. 

Pada zaman itu uang orang terjatuh di jalan saja tidak ada yang berani mengambilnya karena pada sadar akan hak milik, namun juga takut akan hukuman yang menimpa jika mengambilnya. Bisa dipotong tangannya. 

Apa lagi mereka-mereka yang berani membuang sampah sembarangan, bisa-bisa jadi tukang bersih-bersih seumur hidupnya. Padahal jaman itu belum ada plastik. Semua sampah adalah organik, alias bisa diurai alam secara langsung dalam waktu yang singkat.

Saya tidak bisa berharap dengan orang-orang generasi tersebut. Orang dewasa yang jorok cenderung kurang bisa berubah jika tidak dihukum dengan keras, sangat keras. Pendidikan untuk orang dewasa susah mengubah watak dan kebiasaan. 

Orang-orang semacam itu cenderungnya bersifat oportunis sejati. Tidak hanya pintar memanfaatkan peluang dalam hal bisnis, namun peluang dalam membuang sampah sembarangan.

"Orang lain pada buang sampah di situ, ikutan ahh." Padahal spot itu sudah ditulisi "Jangan Buang Sampah di Sini, Bukan Tempat Pembuangan Sampah," Mereka tahu itu tetapi tidak peduli.

Generasi Emas Indonesia. Mereka yang hidup harmoni dengan alam

Manusia di Indonesia sangat banyak sekali yang pintar dan peduli akan lingkungan alam. Saya tidak pernah kehabisan harapan akan hal itu dan yakin pasti akan ada perubahan yang sangat signifikan dalam mengelola alam kita ini.

Mereka, generasi emas indonesia, yang mungkin sekarang ini sedang menduduki bangku kuliah, yang 10 tahun lagi akan menjadi pada eksekutif jalannya pemerintahan. Mereka yang sedang duduk di bangku SMA, 10 tahun lagi menjadi para manusia yang menjadi agen para eksekutif itu, disusul adik-adik angkatan mereka, berkesinambungan membuat sistem yang damai dan mutakhir, efektif dan efisien.

Zaman digital, zaman di mana sudah tidak ada lagi tirai atau sekat yang berarti dalam mendapatkan kesempatan untuk belajar. Zaman itu adalah masa kini. Zaman di mana ruang belajar bisa dimampatkan hingga sebesar smartphone, yang pada anak TK pun sekarang sudah punya dan mahir dalam menggunakannya. 

Dari situ mereka bisa mengenal alam, walaupun yang ada di hadapannya adalah hutan beton. Paling tidak, alam menjadi masuk dalam angannya, menjadi sebuah impian. Dari impian itu muncul gagasan dan cita-cita.

Namun semua ini adalah harapan. Semuanya masih gelap dan kita tidak akan tahu apa ujung dari semua itu. Hal yang bukan menjadi cakupan kita jadikanlah hanya sebagai harapan saja. 

Yang paling pokok adalah mereka-mereka yang berada dalam lingkungan kita, sirkel kita. Mereka itu siapa? Yaitu kita sendiri, keluarga kita, teman dan tetangga kita. Orang-orang yang kita kenal dan mau berdialog dengan kita, terutama para calon generasi emas. Mereka para kaum milenial. Merekalah manusia yang akan menggenggam alam pada masa kedepan. 

Hal Sederhana Penggugah Kesadaran Cinta Alam

Mencintai alam itu sangat mudah. Cukup sadar akan kebutuhan diri kita sendiri yang hakiki, maka mencintai alam akan tumbuh. 

Ada beberapa hal kecil yang bisa menjadikan kita cinta alam, di antaranya

1. Belajar IPA (Ilmu pengetahuan alam). Dengan mengetahui sedikit ilmu pengetahuan alam, secara otomatis manusia akan bisa mengerti betapa pentingnya alam untuk kelangsungan hidupnya. 

2. Membuang sampah di tempatnya. Hal ini adalah hal yang remeh temeh, hal yang sangat kecil, namun dampaknya sangat besar bagi karakter manusia. Dengan membuang sampah pada tempatnya, kita bisa belajar adil. Misalnya membuang plastik, jika orang tau tempatnya maka plastik itu akan dibuang di tempat sampah khusus plastik, yang organik di tempat sampah organik. Kita akan belajar bagaimana manajemen sampah, memilah sampah. Hingga menjadi terbiasa dan menjadi karakter, maka otomatis akan lebih sadar akan kehidupannya, akan hak dan kewajibannya.

Tidak usah banyak-banyak teori, cukup dua hal di atas.

Broo, sis, mari kita jaga alam kita.